17.12.12

Leptospirosis


BAB  I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Penyakit Leptospirosis  tersebar luas di seluruh dunia, muncul di daerah perkotaan dan pedesaan baik di Negara maju maupun Negara berkembang kecuali daerah kutub. Penyakit ini dapat terjadi sebagai resiko pekerjaan (occupational hazard) menyerang petani padi dan tebu, pekerja tambang, dokter hewan, peternak, peternak sapi perah, pekerja yang bekerja di pemotongan hewan, nelayan dan tentara ( Chin,J. 2000 ).
Leptospirosis merupakan penyakit demam akut dengan manifestasi klinis bervariasi, disebabkan oleh Leptospira. Leptospirosis hingga kini masih merupakan masalah kesehatan global terutama di Negara tropis seperti Indonesia. Leptospirosis termasuk emerging infectious diseases dan akhir-akhir ini sering terjadi outbreaks di Nicaragua, Brasil, India, negara-negara Asia Tenggara juga Amerika. Masalah yang berkembang sehubungan dengan penyakit ini adalah diagnosisnya sering terlambat serta progresivitas penyakit yang sepenuhnya belum diketahui.
Berbagai faktor yang ikut menentukan progresivitas leptospirosis adalah: Faktor eksternal antara lain virulensi Leptospira, sedangkan factor internal adalah: status imun penderita. Faktor yang ikut menentukan progresivitas leptospirosis antara lain: hemolisin, lipopolisakarida, glikoprotein, lipoprotein, peptidoglikan, heat shock proteiuhuns, dan flagellin. Gen hemolisin SphH dari L. interigans strain HY-1 juga ikut berperan dalam pengendalian progresivitas leptospirosis. Leptospira yang mengalami lisis akibat aktivitas immunoglobulin maupun komplemen dapat menginduksi sekresi enzim, toksin, dan sitokin (IL-1, IL-6, IL-8, TNFa) yang kemudian ikut menentukan derajat berat manifestasi klinis (Sachro, 2002).
B.   Tujuan
1.    Mengetahui apa Pengertian Leptospirosis
2.    Mengetahui apa penyebab timbulnya Leptospirosis
3.    Mengetahui bagaimana pencegahan terhadap Leptospirosis

C.   Ruang Lingkup
Makalah Leptospirosis ini merupakan ruang lingkup Mikrobiologi.

D.   Manfaat
Hasil dari makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang penyakit leptospirosis .



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.   Pengertian Leptospirosis
Leptospirosis atau disebut sebagai Penyakit Weil, Demam Canicola,Ikterus Hemoragika, Demam Lumpur, dan Penyakit Swineherd. Kelompok penyakit zoonesis yang disebabkan oleh bakteri dengan manifestasi berubah-ubah. Ciri-ciri yang umum adalah demam dengan serangan tiba-tiba, sakit kepala, menggigil, mialgia berat (betis dan kaki) dan merah pada conjuctiva. Manifestasi lain yang mungkin muncul adalah demam diphasic, meningitis, ruam (palatal exanthem), anemia hemolytic, pendarahan di dalam kulit dan selaput lendir, gatal hepatorenol, gangguan mental dan depresi, myocarditis dan radang paru-paru dengan atau tanpa hemopthisis. Di daerah yang endemis leptospirosis, mayoritas infeksi tidak jelas secara klinis atau terlalu ringan untuk didiagnosa secara pasti. Kasus sering didiagnosa salah sebagai meningitis, ecefalitis atau influenza, bukti serologis adanya infeksi leptospira ditemukan diantara 10% kasus meningitis dan encephalitis yang tidak terdiagnosa ( Chin,J. 2000 ).
Leptospirosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan bisa menyerang manusia dan hewan. Penyakit ini terdapat di seluruh dunia ( Yatim, F. 2007 ).

B.   Leptospira
Leptospira merupakan kuman bentuk spiral halus, ujung sel kuman bengkok, bergerak aktif dan berukuran 6-20um x 0,1 um. Morfologi tersebut dapat dilihat setelah diberikan pewarnaan Burri, Fontana Tribondeau, Becker Krantz atau Giemsa. Gerak kuman dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop lapangan gelap. Bersifat aerob obligat dengan suhu pertumbuhan antara 28-30C. Untuk pertumbuhannya diperlukan perbenihan yang mengandung serum kelinci 10%. Leptospira dapat dibiakkan pada selaput Korioalantois. Pembenihan yang banyak digunakan dalam leptospira antara lain perbenihan Vervoort, Noguchi, Fletcher dan Cox. Leptospira dapat tahan lama dalam air terutama dalam pH alkali. Secara garis besar leptospira dapat dibagi menjadi dua spesies, yaitu Leptospira interrogans yang patogen dan Leptospira biflexa yang bersifat saprofit, yang terutama ditemukan pada permukaan air tawar, jarang ditemukan pada air laut dan jarang ada kaitannya dengan infeksi pada mamalia. Spesies yang patogen dibagi dalam 16 serogrup dimana tercakup 150 serotip (serovar). Dari banyak strain Leptospira dapat dikstraksi lipopolisakarida yang memiliki reaktivitas grup.

C.   Penyebab Leptospirosis
Penyebab penyakit adalah Leptospira, anggota dari ordo Spirochaetales. Leptospira yang menularkan penyakit termasuk ke dalam spesies Leptospira interregans, yang dibagi lagi menjadi berbagai serovarian. Lebih dari 200 serovarian telah diketahui, dan semuanya terbagi dalam 23 kelompok (serogroup) yang didasarkan pada keterkaitan serologis. Perubahan penting dalam penamaan (nomenklatur) leptospira sedang dibuat didasarkan atas keterkaitan DNA. Serovarian yang umum ditemukan di AS adalah Icterohaemorrhagiae, canicola, autumnalis, hebdomidis, australis dan pomona. Inggris, New Zeland dan Australia, infeksi L. Interrogans serovarian hardjo paling sering terjadi pada manusia yang kontak dekat dengan peternakan yang terinfeksi.
Hewan peliharaan  dan binatang liar, serovarian berbeda-beda pada setiap hewan yang terinfeksi. Khususnya tikus besar (ichterohemorrhagiae), babi (pomona), lembu (hardjo), anjing (canicola), dan raccoon (autumnalis) di AS, babi terbukti menjadi tempat hidup bratislava, sedangkan di Eropa badger sejenis mamalia karnivora juga dilaporkan sebagai reservoir. Ada banyak hewan lain yang dapat menjadi hospes alternative, biasannya berperan sebagai carrier dalam waktu singkat. Hewan-hewan tersebut adalah binatang pengerat laut, rusa,tupai, rubah, raccoon, mamalia laut (singa laut). Serovarian yang menginfeksi reptile dan amfibi belum terbukti dapat menginfeksi mamalia, namun di Babardos dan Trinidad dicurigai telah menginfeksi manusia. Pada binatang carrier terjadi infeksi asimtomatik, leptospira ada dua di dalam tubulus renalis binatang tersebut sehingga terjadi leptospiruria seumur hidup binatang tersebut.

D.   Cara Penularan
Penularan penyakit Leptospirosis melalui kontak pada kulit, khususnya apabila terluka atau kontak selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman, khususnya tanaman tebu yang terkontaminasi dengan hewan terinfeksi, berenang, luka yang terjadi karena kecelakaan kerja, kontak lansung dengan urin atau jaringan tubuh hewan yang terinfeksi, kadang melalui droplet dari cairan yang terkontaminasi. Masa inkubasi biasanya 10 hari, dengan rentang 4-19 hari. Penularan langsung dari orang ke orang sangat jarang terjadi. Leptospira dapat dikeluarkan biasanya dalam waktu 1 bulan, tetapi leptospiruria telah ditemukan pada manusia dan hewan dalam waktu 11 bulan setelah menderita penyakit akut. Pada umumnya orang rentan kekebalan timbul terhadap serovarian tertentu yang disebabkan oleh infeksi alamiah atau (kadang-kadang) setelah pemberian imunisasi tetapi kekebalan ini belum tentu dapat melindungi orang dari infeksi  serovarian yang berbeda.

E.   Gejala Leptospirosis
Gejala klinis berlangsung selama beberapa hari sampai 3 minggu atau lebih. Setelah melewati masa tunas antara 10-12 hari, penderita dapat terkena demam mendadak dan mengigil, sakit perut dan muntah-muntah. Penderita mengeluh sakit otot, sakit kepala hebat dan epistaksis, mungkin dapat ditemukan konjungtivitis. Hati dapat membengkak, pada 50 % dari kasus ijumpai ikterus pada hari ke-5. Pada hepatitis karena leptospira ini sering kali disertai dengan peningkatan serum kreatin fosfokinase (pada hepatitis virus kadarnya normal). Pada minggu pertama sakit, leptospira dapat dijumpai di seluruh tubuh penderita, hal ini dapat dibuktikan dengan cara inokulasi darah penderita pada marmot. Pada minggu ke-2 leptospira mulai menyerang ginjal dan pada akhir minggu ke-2 dapat ditemukan dalam urin. Leptospira dalam urin dapat dijumpai pada hari ke-40. Kerusakan pada ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal dan berakibat fatal, mungkin perlu dianalisis. Jika susunan syaraf pusat terkena, dapat menimbulkan timbulnya gejala meningitis atau ensefalitis.

F.    Diagnosa Leptospirosis
Jenis leptospira yang berbeda sehingga tes serologi harus menggunakan panel yang khusus untuk mendiagnosa leptospira di suatu daerah tertentu. Kesulitan dalam mendiaknosa penyakit ini menyulitkan upaya pemberantasan sehingga sering menyebabkan peningkatan angka kematian karena penderita cenderung menjadi berat karena tidak dilakukan diagnosa dan pengobatan yang tepat. Untuk bahan pemeriksaan yang berupa darah dan likuor serebrospinalis, leptospira dapat ditemukan pada minggu sakit yang pertama. Leptospira dapat ditemukan dalam urin mulai akhir minggu pertama sampai hari ke-40.
Pemeriksaan serologi sangat penting untuk diagnosis leptospirosis. Pada umumnya antibodi baru ditemukan setelah hari ke-7 atau ke-10. Titernya akan selalu meningkat dan akan mencapai puncaknya pada minggu sakit yang ke-3 atau ke-4, namun hasil tes serologi bergantung kepada jumlah strain leptospira yang di pergunakan untuk memeriksa serum penderita. Titernya dimulai dari 1/10.000ke atas. Untuk tes serologi ini dapat digunakan cara aglutinasi mikroskopis atau makroskopis, atau tes hemaglutinasi. Imunitas yang timbul setelah infeksi bersifat spesies spesifik terhadap serotip tertentu. Imunitas akan menetap bertahun-tahun.
G.   Cara Pencegahan
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mencegah penularan penyakit Leptospirosis yaitu  :
1.    Upaya pencegahan yang dapat dilakukan
a.    Beri penyuluhan kepada masyarakat tentang cara-cara penularan penyakit ini. Jangan berenang atau menyeberangi sungai yang airnya diduga tercemar oleh leptospira, dan gunakan alat-alat pelindung yang diperlukan apabila harus bekerja pada perairan yang tercemar.
b.    Lindungi para pekerja yang bekerja di daerah yang tercemar dengan perlindungan secukupnya dengan menyediakan sepatu boot, sarung tangan dan apron.
c.    Kenali tanah dan air yang berpontesi terkontaminasi dan keringkan air tersebut jika kemungkinan.
d.    Berantas hewan-hewan pengerat dari lingkungan pemukiman terutama di pedesaan dan tempat-tempat rekreasi. Bakar ladang tebu sebelum panen.
e.    Pisahkan hewan peliharaan yang terinfeksi; cegah kontaminasi pada lingkungan manusia, tempat kerja dan tempat rekreasi oleh urin oleh urin hewan yang terinfeksi.
f.     Pemberian imunisasi kepada hewan ternak dan binatang peliharaan dapat mencegah timbulnya penyakit, tetapi tidak mencegah terjadinya infeksi leptospiruria. Vaksin harus mengandung strain domain dari leptospira di daerah itu.
g.    Imunisasi diberikan kepada orang yang karena pekerjaannya terpajan dengan leptospira jenis serovarian tertentu, hal ini dilakukan di Jepang, Cina, Itali, Spanyol, Perancis, dan Israel.
h.    Doxycycline telah terbukti efektif untuk mencegah leptospirosis pada anggota militer dengan memberikan dosis oral 200mg seminggu sekali selama masa penularan di Panama.

2.    Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
a.    Laporan kepada instansi kesehatan setempat: pelaporan kasus diwajibkan di banyak negara bagian (AS) dan negara lain di dunia, klasifikasi 2B (lihat tentang laporan penyakit menular).
b.    Isolasi: tindakan kewaspadaan terhadap darah dan cairan tubuh.
c.    Disinfeksi serentak: dilakukan terhadap benda yang tercemar dengan urin.
d.    Karantina: tidak dilakukan.
e.    Imunisasi terhadap kontak: tidak dilakukan.
f.     Investigasi orang-orang yang kontak dan sumber infeksi: selidiki adanya hewan-hewan yang terinfeksi dan air yang terkontaminasi.
g.    Pengobatan spesifik: penisilin, cephalosporin lincomycin dan erythromycin menghambat pertumbuhan leptospira invitro. Doxycyline dan penisilin G dikatakan terbukti masih efektif dalam percobaan Double Blind Placebo Controlled trials penisilin G dan amoksisilin terbukti masih efektif walaupun diberikan dalam 7 hari sakit. Namun pengobatan yang tepat dan sedini mungkin sangatlah penting. Belakangan setelah dilakukan telah secara sistematik terhadap berbagai uji coba randomized control trials terhadap berbagai antibiotika dapat menurunkan angka kematian leptospirosis. Namun pengobatan yang tepat dan cepat (< 5 hari sakit), dapat mengurangi lamanya perawatan di rumah sakit. Penisilin (1,2gr benzyl penicillin IV atau IM setiap 4-6 jam) cukup efektif untuk kasus berat walaupun diberikan 7 hari sakit.
3.    Penanggulangan wabah
Mencari sumber infeksi seperti kolam renang yang terkontaminasi dan sumbe air lainnya;menghilangkan kontaminasi atau melarang penggunaannya. Menyelidiki sumber penyakit dan lingkungan pekerjaan, termasuk mereka yang kontak langsung dengan hewan.
4.    Implikasi bencana
Potensi untuk terjadi penularan dan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada saat terjadi banjir yang menggenangi daerah sekitarnya.
5.    Tindakan internasional
Manfaatkan pusat kerjasama World Health Organization (WHO).














Comments
0 Comments

0 komentar: